ads_hari_koperasi_indonesia_74

INTERAKSI SISWA DI SEKOLAH DAPAT MENJADI KLUSTER BARU COVID-19

INTERAKSI SISWA DI SEKOLAH DAPAT MENJADI KLUSTER BARU COVID-19

Oleh : Inas N Zubir

Bulan juli 2021 Pemerintah mulai membuka sekolah untuk bertatap muka dengan aturan sbb:

1. Sekolah hanya boleh mengadakan pembelajaran tatap muka untuk maksimal 25 persen total siswa. Siswa lainnya tetap mesti mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

2. Pembelajaran tatap muka hanya bisa berjalan maksimal 2 hari dalam seminggu.

3. Sekolah tatap muka maksimal bisa berlangsung selama 2 jam saja.

4. Siswa yang boleh mengikuti pembelajaran tatap muka mesti sudah mendapat izin dari orangtuanya.

5. Seluruh guru dan tenaga pendidikan di sekolah yang ingin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka mesti telah mendapat dua dosis vaksin Covid-19.

6. Seluruh sekolah akan masuk daftar pemeriksaan kesiapan PTM terbatas. Bila tak siap, sekolah itu akan tetap memberlakukan PJJ.

Aturan tersebut diatas tidak akan efektif dalam proses belajar dan mengajar karena waktu dan tempat yang dibatasi, selain itu juga pencegahan penularan covid-19 tidak akan efektif juga karena interaksi antara siswa sulit untuk dibatasi pada saat di lingkungan sekolah, sedangkan guru atau dosen juga dipastikan tidak akan mampu membatasi interaksi siswa disaat sebelum dan sesudah masuk kedalam kelas.

Seyogyanya Pemerintah menyediakan dahulu vaksin covid-19 bagi siswa yang dimulai dulu dari perguruan tinggi, setelah itu barulah proses belajar mengajar dimulai, setelah itu dilanjutkan ke siswa SLTA kemudian SLTP, sedangkan untuk siswa Sekolah Dasar dan PAUD, sebaiknya menunggu tercapai-nya herd imunity atau setelah tersedia-nya vaksin covid-19 untuk anak-anak.

Akan diselenggarakan-nya proses belajar dan mengajar pada bulan Juli 2021 mendatang, membuat sebagian orang tua gelisah karena bingung untuk memutuskan, apakah mengizinkan anak-nya untuk pergi kesekolah untuk menuntut ilmu secara tatap muka dengan resiko tertular covid-19 atau tetap mengikuti sekolah daring. Kita berharap agar Pemerintah tidak menenempatkan para orang tua siswa tersebut dalam posisi dilema, karena dimasa pandemi ini, menafkahi keluarga saja sudah menjadi dilema. [•]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply