ads_hari_koperasi_indonesia_74

Saadiah Uluputy : Harus Ada Political Will Untuk Benahi Kelistrikan Di Maluku

Saadiah Uluputy : Harus Ada Political Will Untuk Benahi Kelistrikan Di Maluku

Jakarta, hotfokus.com

Anggota Komisi VII DPR-RI dari Fraksi PKS, Saadiah Uluputy mengatakan, harus ada Political Will atau kemauan dan usaha secara politik untuk membenahi segala permasalahan terkait kelistrikan di wilayah Seram, Maluku, khususnya terkait keandalan listrik yang saat ini dirasakan masih jauh dari kondisi baik.

“Harus ada political will dan good will untuk memperbaiki segala kekurangan dalam rangka mendorong percepatan kelistrikan di pulau Seram. Pembangunan infrastruktur listrik yang handal haruslah menjadi perhatian,” ujar Saadiah kepada Hotfokus, usai kunjungan kerjanya ke pulau Seram, Maluku pada ,24-27 Februari 2021.

Saadiah menceritakan, selama empat hari di pulau Seram bersama PLN, ia mengagendakan waktu khusus untuk mendengar, mengamati, menyaksikan dan ikut merasakan persoalan kelistrikan yang terjadi di pulau Seram untuk pelayanan 3 kabupaten yaitu Seram Bagian Barat, Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur.

“Mengkonfirmasi dan menyoal peta Kelistrikan UP3 Masohi kepada Pak Adi Purwono, Kepala UP3 Masohi, berkunjung dan berdiskusi dengan Kepala PLN Tehoru dan mendatangi Unit Pelayanan PLN Teluti dan juga berdiskusi dengan Kepala Unit Layanan di Laimu,” tuturnya.

Saadiah juga melengkapi kunjungan ke kantor PLTMG seram peaker 20 MW di Masohi, serta meninjau langsung power house dengan menyaksikan kerja 2 engine berkekuatan masing masing 10 MW yang menggunakan 2 bahan bakar yaitu minyak dan gas.

Dari kunjungan tersebut, ia menemukan fakta bahwa masih ada dua pola.operasi pembangkit listrik, yaitu 24 jam dan 12 jam. Saadiah pun menyoroti masih adanya masyarakat yang hanya bisa mengakses listrik selama 12 jam saja dalam sehari.

“Yang beroperasi 24 jam adalah Sistem Piru, Sistem Kairatu, Sistem Masohi, Sistem Laimo, Sistem werinama, Sistem Bula dan Sistem Kobisonta,” ungkapnya.

“Sedangkan yang masih beroperasi 12 jam yaitu Sistem Ollong, Sistem Taniwel, Sistem Buano, Sistem Geser, Sistem Amarsekaru, Sistem pulau Teor, Sistem pulau Kesui, Sistem Ondor, Sistem Kian Darat, dan Sistem Wahai,” jelasnya lagi.

Lagi-lagi, Saadiah menemukan enam fakta bahwa yang harus menjadi perhatian serius.

Pertama, mesin-mesin yang beroperasi adalah mesin Tua dan lama sejak zaman pemerintahan suharto belum ada pengadaan mesin baru, sehingga mesin mesin sebagian besar sudah rusak dan tidak bisa beroperasi.

Kedua, mengadaan PLTD belum terealisasi sementara pembangunan jaringan baru beserta power house sudah selesai sejak 2018.

Ketiga, pembangkit baru Pusat Listrik Tenaga Mesin dan Gas ( PLTMG) seram peaker 20 MW sudah beroperasi dengan jaringan lama. Mesti ada perbaikan atau rehab menyeluruh jaringan A3C (kabel telanjang) menjadi A3CS (kabel bungkus)

Keempat, harus ada penerimaan SDM untuk menambah tenaga alih daya sesuai kebutuhan pelayanan, seiring dengan penggunaan sistem Supervisory, Control and Data Aqcuisition (SCADA) suatu teknologi yang menggabungkan fungsi pengawasan, pengendalian dan pengambilab data jarak jauh yang terpusat pada suatu tempat.

Kelima, harus ada kerjasama dengan stakeholder atau pemangku kepentingan yaitu pemda menyusun regulasi untum mengatasi gangguan jaringan berupa tanaman dan pohon pohon disekitar jaringan agar bisa meminimalisir gangguan eksternal sistem.

Keenam, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN Dirjen Ketenagalistrikan kementrian ESDM Pulau seram yang akan dibangun adalah PLTMG Seram Utara 20 MW akan dibangun 2021, PLTM Waemala 2 MW – 2021, PLTMG Bula 10 MW – 202, PLTM Seram 2 x 3,9 MW 2022. PLTMG Seram peaker 20 MW 2019. Yang baru dibangun adalah PLTMG seram peaker 20 MW.

“Mudah mudahan dengan berjalannya waktu PLN akan semakin baik dalam memperbaiki performanya. Untuk kesejahteraan dan sebesar besar kemakmuran rakyat,” pungkasnya. (SNU/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply