ads_hari_koperasi_indonesia_74

LPDB Siap Berikan Dukungan Pembiayaan Bagi Dua Koperasi Di NTB

LPDB Siap Berikan Dukungan Pembiayaan Bagi Dua Koperasi Di NTB

Lombok, hotfokus.com

Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB – KUMKM) menegaskan siap memberikan dukungan modal usaha kepada dua koperasi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kedua koperasi itu adalah Koperasi Cabe Rawit di Kota Mataram, NTB dan Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Ammar Sasambo di Lombok Tengah, NTB. Produk-produk dari anggota masing-masing koperasi ini dinilai punya nilai khusus dan unggul dibandingkan dengan produk anggota koperasi lainnya.

Diakui bahwa selama Pandemi Covid-19 yang sudah hampir setahun berjalan ini mengakibatkan modal usaha dari masing-masing anggota koperasi tergerus. Sementara kemampuan koperasi untuk terus memberikan pembiayaan bagi anggotanya juga terbatas. Oleh sebab itu agar usaha para UMKM anggota koperasi ini tidak “mati suri”, maka perlu ada dukungan permodalan terutama dari LPDB KUMKM yang disalurkan melalui koperasi.

Direktur Bisnis LPDB-KUMKM, Krisdianto Sudarmono, menjelaskan bahwa sebagai Satuan Kerja (Satker) dari Kementerian Koperasi dan UKM, pihaknya sangat komitmen untuk terus mendukung kemajuan koperasi. Pihaknya sedang melakukan asessment terhadap dua koperasi tersebut agar bisa menjadi mitra usahanya. Dari assesment awal diakui bahwa dua koperasi itu memiliki potensi yang besar untuk bisa mendapatkan fasilitas pembiayaan untuk penambahan modal kerjanya. Pasalnya dari track record administrasi dan juga produk-produk yang dihasilkan oleh anggotanya cukup meyakinkan.

“Tim kami udah lakukan diskusi dengan teman – teman di sini yang dibutuhkan untuk koperasi Cabe Rawit salah satunya adalah mesin packaging. Kami LPDB siap memberikan pembiayaan pinjaman. Secara produk udah enak ini nggak kalah dengan produk lain. Kami siap bantu untuk koperasi ini,” kata Krisdianto saat melakukan kunjungan kerjanya ke NTB.

Dikatakan bahwa pembiayaan yang disalurkan oleh LPDB sangat kompetitif lantaran tingkat bunganya sangat rendah yaitu 3 persen. Besaran bunga ini lebih rendah bahkan terhadap suku bunga kredit yang disalurkan lembaga perbankan melalui skim kredit usaha rakyat (KUR) yang tingkat bunganya 6 persen. Dengan tingkat bunga yang rendah ini akan memberikan ruang yang lebar bagi koperasi untuk bisa memperoleh margin yang kempetitif. Sementara bagi UMKM yang menjadi anggotanya bisa mendapatkan dana murah dengan tingkat bunga yang lebih rendah di koperasinya.

“Kami beda dengan lembaga pembiayaan lain, kita sangat murah yaitu 3 persen (bunganya) bahkan di bawah KUR. Kita tidak ada biaya provisi, administrasi dan lainnya sehingga tidak memberatkan. Bahkan kita ada grace periode bisa 6 bulan bisa 3 bulan agar koperadi dan UMKM ini bisa melewati masa sulit ini,” pungkas dia.

Ketua Koperasi Cabe Rawit, Endang Susilowati mengatakan bahwa saat ini anggota yang bernaung di koperasi sebanyak 95 orang dengan latar belakang usaha yang berbeda-beda dari kuliner hingga produk tekstil. Namun yang menjadi unggulan dari produk anggotanya adalah produk kuliner. Bahkan produk makanan olahan yang diproduksi dari anggota koperasi ini mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu.

Produk makanan olahan seperti ayam taliwang, dan produk-produk makanan olahan dalam kemasan dan frozen food. Koperasi ini juga mendapat apresiasi dari Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) karena kemampuan dalam mendiversifikasi produk makanan olahan sehingga bisa dipasarkan hingga ke luar NTB. Selain fokus pada produk kuliner, koperasi ini juga mengembangkan basis usahanya melalui culinary training center, yaitu kelas khusus untuk mengajarkan masak memasak pada siswa.

Endang berharap agar LPDB-KUMKM dapat memberikan dukungan pembiayaan untuk pengadaan alat produksi bersama khususnya alat untuk mempercantik packaging dari produk-produk anggotanya. Sebab diakuinya bahwa saat ini produk olahan kemasannya dirasakan masih perlu untuk dipercantik sehingga bisa lebih menjangkau pasar lebih luas.

“Semoga harapan kami ke LPDB bisa diakomodir. Selama ini packaging kami besar – besar, nah kami ingin yang bisa
mini. Kalau ada satu mesin untuk beberapa produk maka kami seneng sekali. Kami bercita-cita bisa ekspor juga,” ungkap Endang.

Di tempat terpisah Pengurus KSPPS Ammar Sasambo, Lalu Buntaran, menyatakan potensi sarang burung walet untuk pasar ekspor sangat tinggi. Dalam setiap bulannya koperasi ini bisa mengekspor hingga 2 kwintal sarang burung walet ke beberapa negara seperti China, Thailand dan Singapura. Dijelaskan harga ekspor produk ini bisa sampai Rp35 juta per kilogram (Kg).

Hanya saja untuk memenuhi kebutuhan ekspor dalam partai besar itu, pihaknya kekurangan modal usaha. Oleh sebab itu dia berharap ada dukungan dari pemerintah khususnya kepada LPDB-KUMKM untuk bisa menjembatani kebutuhan pembiayaan itu.

“Kita kalau mau partai besar ekspor kayanya butuh dana antara Rp3 – Rp5 miliar. Kita sangat yakin kalau ini digenjot, difasilitasi negara maka peternak walet di luar sana akan bahagia,” tutur Lalu Buntaran saat menerima rombongan dari LPDB-KUMKM.

Dia juga menjelaskan bahwa selain mengekspor bahan mentah, kedepan pihaknya bersama anggota koperasi lain akan mengupayakan untuk bisa mengekspor produk turunan seperti kopi walet, bubur walet, herbal walet. Dengan begitu nilai tambah yang bisa dihasilkan bisa lebih besar.

“Kita sebentar lagi setelah kita ketemu dengan dinas dan LPDB ini akan berupaya agar turunan walet ini juga bisa diekspor. Selama ini kit langsung ekspor rumah walet ke China, Thailand, Singapura,” pungkas dia. (DIN/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply