ads_hari_koperasi_indonesia_74

Tong Djoe, Salah Satu Pendiri Pertamina Wafat

Tong Djoe, Salah Satu Pendiri Pertamina Wafat

Jakarta, Hotfokus.com

Kabar duka kembali menyelimuti tanah air, Tong Djoe, seorang pengusaha yang juga pejuang nasional, salah satu tokoh pendiri Permina atau yang saat ini dikenal Pertamina, menghembuskan nafas terakhir di usia 94 tahun pada Senin (8/2/2021) kemarin.

Tong Djoe bersama JM Pattiasina dan Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi Dirut Pertamina, mendirikan National Oil Company (NOC) itu pada 1958.

Mengenang Tong Djoe, mantan anggota DPR RI, Engelina Pattiasina menyebut bahwa kala itu Tong Djoe banyak memberikan sumbangsih untuk kelangsungan operasional Permina, khususnya di Pangkalan Brandan.

“Karena negara saat itu tidak mungkin menurunkan anggaran, beliau turun tangan untuk melakukan pinjaman kecil-kecilan di Singapura dan Hongkong untuk teman-temannya, Ibnu Soetowo dan JM Pattiasina yang sedang berjuang mendirikan industri minyak nasional di Pangkalan Brandan agar Permina bisa beroperasi. Hal Itu dilakukan sebelum kredit minyak pertama untuk Pertamina turun dari Nosodeco – Jepang,” papar Engelina, Rabu (10/2/2021).

Menurut Engelina, Tong Djoe adalah seorang sosok yang bekerja dalam diam, di belakang layar untuk memajukan sektor energi Indonesia. Jasanya untuk Republik Indonesia sangat besar.

“Selain nama-nama pendiri Pertamina antara kain Ibnu Soetowo dan JM Pattiasina, Tong Djoe adalah sosok yang tidak mungkin diabaikan dalam berdirinya Industri Minyak Nasional, Pertamina,” kata putri JM Pattiasina ini.

Tidak hanya itu, lanjut dia, Tong Djoe di masa perjuangan juga ikut berjuang bersama ayahnya membantu para pemuda di Sumatera Selatan dalam pertempuran melawan penjajah.

“Tong Djoe muda sudah ikut ayahnya memasok senjata, untuk membantu pemuda-pemuda semasa pertempuran agresi militer pertama dan kedua melawan penjajah 1947 – 1948, di Sumatra Selatan,” jelasnya.

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.20.18

Tong Djoe sendiri sudah lama berbisnis multi bidang di Indonesia, khususnya dengan pebisnis China. Saking dekat dengan pebisnis China, dia berperan menjembatani pembukaan kembali hubungan diplomatik Indonesia dengan China pada dasawarsa ’90-an.

Meski sepi dari pemberitaan dalam lima tahun, Tong Djoe selama ini dikenal sebagai pemilik perusahaan Tunas Group Pte. Ltd. dan banyak berperan dalam membuka kembali hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Pengusaha kapal ini telah menjalin hubungan dengan para presiden Indonesia sejak pada masa Presiden Sukarno. Dalam hubungannya dengan sejumlah presiden Indonesia belakangan ini, Tong Djoe banyak berperan dalam menciptakan jalinan usaha dagang antara para pengusaha Indonesia dan Tiongkok dan memberikan nasihat kepada beberapa presiden dalam berhubungan dengan negara tersebut.

Atas perjuangan Tong Djoe dan segala upayanya dalam membantu Indonesia, sejak perang kemerdekaan hingga masa pembangunan ekonomi, Presiden Habibie atas nama Republik Indonesia memberikan Penghargaan Bintang Jasa Pratama kepada taipan ini, 25 Agustus 1998, diserahkan langsung oleh Menlu Ali Alatas di Gedung Deplu Pejambon, Jakarta.(SF)

Membantu Dalam Senyap

Dikutip dari beberapa sumber, Tong Djoe semasa hidupnya banyak membantu Indonesia, China, dan bahkan Singapura dari gedung Tunas miliknya di Singapura. Gedung perkantoran Tunas sendiri diresmikan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo pada tahun 1973. Lokasinya di kawasan Tanjong Pagar, dekat pelabuhan Singapura.

Gedung Tunas ketika itu merupakan gedung tertinggi dan termewah karena kawasan itu dulunya masih merupakan kampung.

“Istri Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura) ketika datang bertanya kenapa saat itu saya membangun gedung tinggi di kawasan pelabuhan Singapura yang saat itu masih kampung. Kenapa tidak membangun di pusat kota. Saya jawab suatu saat kawasan ini menjadi kawasan terpenting dan mahal. Sekarang terbukti gedung perkantoran ini yang paling kecil dibandingkan yang lainnya,” kata Tong Djoe ketika itu dalam sebuah sesi wawancara.

Dari gedung itulah Tong Djoe ikut membantu bisnis Pertamina, Pelni, dan BUMN Indonesia lainnya. Gedung Tunas menjadi tempat pertemuan para pengusaha Indonesia dan BUMN dengan mitra bisnis internasionalnya. Gedung ini juga menjadi saksi dia membantu finansial para perwira tinggi TNI dan pemimpin politik Indonesia.

“Dari gedung ini juga, saya ikut merapatkan hubungan bilateral dan bisnis antara Indonesia-Singapura. Ketika tentara Indonesia sudah siap menyerang Singapura awal tahun 1970-an, saya juga yang bantu menyelesaikannya. Setelah baik, saya membawa para pengusaha Singapura ke Indonesia,” kenang Tong Djoe.

“Saya menjual gedung ini untuk mendanai normalisasi hubungan Indonesia-RRC atas permintaan Presiden (waktu itu) Suharto langsung. Juga normalisasi hubungan bilateral Singapura-RRC,” tambah dia.

“Suatu hari Jaksa Agung Singapura datang ke saya sebelum berkunjung ke Xianmen, China. Dia minta bantuan saya. Saya bilang lho kok datang ke saya bukan ke perwakilan China. Saat itu, Singapura belum ada hubungan diplomatik dengan RRC. Mereka bilang datang ke saya karena percaya bisa membantu. Akhirnya, saya bantu dan mereka bisa masuk Xianmen dan kini hubungan Singapura-RRC sangat baik,” katanya.

Selain itu, Tong Djoe merupakan pengusaha Indonesia yang membangun pertama kali pergudangan modern di pelabuhan Singapura. (SNU/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *