ads_hari_koperasi_indonesia_74

Pasokan Tersendat Karena Cuaca, Dirjen Gatrik Pastikan Kebutuhan Batu Bara Untuk PLTU Aman

Pasokan Tersendat Karena Cuaca, Dirjen Gatrik Pastikan Kebutuhan Batu Bara Untuk PLTU Aman

Jakarta, Hotfokus.com

Direktur Jendral Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana memastikan, kebutuhan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di tahun 2021 tercukupi, meski diakuinya saat ini pasokan sedikit terhambat sebagai imbas dari buruknya cuaca di sejumlah wilayah Indonesia.

Rida mengunfkalkan, pemerintah telah mengalokasikan 25 persen dari produksi batu bara nasional untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO), termasuk untuk listrik.

“Tahun ini produksi batu bara ditargetkan sebesar 550 juta metrik ton. Dari produksi tersebut, 25 persen atau sekitar 137 juta metrik ton dialokasikan untuk DMO. Sementara kebutuhan batu bara untuk pembangkit di 2021 diperkirakan sebesar 115 juta ton. Artinya, dari sisi volume tidak ada isu, sebab jika melihat angka-angka tersebut bisa dipenuhi,” ujar Rida dalam webinar tentang rantai pasok batu bara untuk pembangkit listrik, Rabu (27/1/2021).

Namun demikian, dikatakannya sejumlah upaya telah dilakukan untuk menjaga pasokan aman, salah satunya yakni dengan mengganti pengangkutan batu bara yang semula menggunakan tongkang, ke penggunaan kapal yang lebih besar dan relatif lebih aman terhadap cuaca.

“Bukan mau menyalahkan cuaca, tapi curah hujan di atas normal menyebabkan banjir, di lokasi tambangnya kebanjiran maka enggak mungkin kerja (nambang), artinya produksi batu baranya menurun. Lokasi penambangan berubah jadi danau dan enggak mungkin dilakukan aktivitas penambangan,” tuturnya.

Ia mengatakan, hambatan pengiran batu bara dimulai ketika batu bara sudah ditambang. Menurutnya, pada saat diangkut harus melewati jalan yang terendam banjir atau bahkan berlumpur. Jalanan tidak bisa dilalui sekalipun oleh truk batu bara yang besar. Hal ini kemudian memperlambat waktu pengiriman batu bara.

“Normalnya pengiriman batu bara dari Kalimantan ke Jawa empat hari berlayar, karena ada banjir di lokasi tambang, jalan rusak menghambat dan ombak tinggi men-delay semua supply lebih dari satu minggu,” pungkasnya. (SNU/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply