ads_hari_koperasi_indonesia_74

Harga Minyak Cenderung Stabil, Lonjakan Kasus Corona Jadi Faktor Pemberat

Harga Minyak Cenderung Stabil, Lonjakan Kasus Corona Jadi Faktor Pemberat

New York, Hotfokus.com

Harga minyak sedikit berubah, namun cenderung stabil pada Selasa, dimana faktor angka kematian secara global akibat virus Corona yang terus meningkat, menjadi fakto pembeban terhadap prospek peningkatan permintaan. Disisi lain, laporan adanya ledakan di Arab Saudi juga ikut membatasi peluang kenaikan permintaan tersebut.

Dikutip dari laporan Reuters di New York, Selasa (26/1/2021) atau Rabu pagi (27/1/2021), minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, mengakhiri sesi dengan kenaikan 3 sen, atau 0,05 persen, menjadi USD55,91 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, ditutup turun 16 sen, atau 0,3 perse , menjadi USD52,61 per barel.

Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, dilaporkan telah melampaui satu juta kasus virus corona yang dikonfirmasi pada Selasa, sementara jumlah kematian di Inggris menembus 100 ribu orang ketika pemerintah berjuang untuk mempercepat pengiriman vaksinasi dan mencegah varian virus tersebut.

Jumlah kasus di Amerika Serikat melampaui 25 juta pada Minggu, penghitungan  Reuters  menunjukkan.

Lebih jauh meredam sentimen  bullish,  di Amerika, Partai Demokrat masih berupaya meyakinkan anggota parlemen dari Partai Republik tentang perlunya lebih banyak stimulus, menimbulkan pertanyaan tentang kapan dan dalam bentuk apa paket tersebut akan disetujui.

“Angka Covid yang besar, perebutan vaksin, dan ketidakpastian seputar rencana stimulus Biden, semuanya berkonspirasi untuk menekan harga,” kata Robert Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho Securities USA.

Dibandingkan beberapa negara lain, peluncuran vaksin di Uni Eropa berjalan lambat dan penuh masalah, tidak terkecuali gangguan pada rantai pasokan.

Harga naik sedikit setelah laporan ledakan di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, meski penyebabnya tidak jelas.

Harga minyak juga didukung oleh ketegangan geopolitik setelah dua supertanker, dengan awak kapal dari Iran dan China, ditangkap pada Minggu di perairan Indonesia, dekat pulau Kalimantan karena dugaan transfer minyak ilegal.

“Harga kemungkinan akan tertahan jika penyitaan kapal Indonesia diselesaikan dengan cepat dan jika ledakan hari ini di Arab Saudi terbukti merupakan insiden terisolasi yang tidak meningkatkan ketegangan regional, akibatnya tidak mempengaruhi produksi minyak,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

“Permintaan minyak pasti di bawah tekanan saat ini dan untuk beberapa saat sampai penguncian dicabut dan kecepatan infeksi Covid-19 melambat.”

China melaporkan meningkatnya kasus Covid-19, mengurangi prospek permintaan di konsumen energi terbesar di dunia itu. Di tempat lain, impor minyak mentah India pada Desember naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Meningkatkan prospek permintaan minyak yang lebih tinggi pada tahun ini, Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan global 5,5 persen pada 2021, naik 0,3 poin persentase dari proyeksi Oktober, mengutip ekspektasi peningkatan yang didorong oleh vaksin. (SNU/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply