ads_hari_koperasi_indonesia_74

Alumni Mercu Buana Sayangkan Pernyataan Jansen Sitondoan

Alumni Mercu Buana Sayangkan Pernyataan Jansen Sitondoan

Jakarta, Hotfokus.com

Alumni Universitas Mercu Buana, Hendi Saryanto ST, M.Eng mengaku gerah dan sangat menyayangkan pernyataan Ketua DPP Partai Demokfat, Jansen Sitondoan, yang mengklaim secara sepihak bahwa mutu perguruan tinggi negeri (PTN) lebih baik dari perguruan tinggi swasta (PTS).

Menururt Hendi, pernyataan Jansen yang mengdikotomikan PTN dan PTS itu menunjukan banwa dirinya sosok individu yang tidak mampu menyandang nama besar institusi perguruan tinggi yang menjadi almamaternya.

“Secara pribadi saya amat menghormati institusi perguruan tinggi negeri apalagi sekelas Universitas Airlangga yang memiliki reputasi hingga di tingkat internasional. Namun saya menyayangkan pernyataan salah satu alumninya yang sangat tendensius dan terkesan tak mampu menyandang nama besar almamaternya,” kata Hendi dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, senin (23/12) pagi.

Sebagai seorang lulusan perguruan tinggi, kata dia, maka yang menjadi tanggung jawabnya adalah mengimplementasikan keilmuan yang dipelajarinya agar bisa berkembang dan bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat sekitarnya. “Namun dengan statementnya  yang justru membanding-bandingkan seseorang dengan dirinya dengan status institusi pendidikan swasta dan negeri merupakan bentuk kedunguan dirinya secara pribadi yang tak memiliki kemampuan dalam memahami dan mengimplementasikan keilmuan yang dimilikinya,” ketus Hendi.

Lebih jauh ia mengatakan, sebagai seorang yang merasa punya kualitas bukanlah ditunjukan dengan membandingkan antara institusi swasta dan negeri, tetapi sejauh mana dia mampu bermanfaat dan memiliki inovasi, kreativitas dan daya analitis yang konstruktif bagi kemaslahatan masyarakat sekitarnya.

“Sebagai rakyat biasa yang bukan politisi, saya merasa Jansen sangat tidak layak sebagai politisi apalagi sebagai orang yang berceloteh tentang kebangsaan, Jansen hanyalah seorang yang merasa dirinya hebat, tetapi alam berfikir tidak seluas yang dia kira,” ketusnya.

“Saya sebagai rakyat biasa justeru ingin dialog terbuka dengan dirinya sebagai orang yang merasa lulusan berkualitas tentang ide, gagasan dan inovasi,” tambahnya.

Sementara salah satu alumni Universitas Hamka (Uhamka), Fahman Habibi menilai, bahwa saat ini antara perguruan tinggi Negeri maupun swasta sudah tidak ada lagi pembeda terutama sejak adanya Akreditasi dari BANPT, yang jadi pembeda adalah kualitas lulusannya.

“Jika dipertanyakan soal kwalitas, maka menurut saya banyak juga lulusan perguruan tinggi swasta yang hebat-hebat bahkan bisa mendapat beasiswa di beberapa kampus ternama di tingkat dunia,” ksta Fahman dalam pesan singkatnya kepada wartawan, di Jakarta, Senin (23/12) pagi.

Selain itu, kata dia, banyak juga alumni perguruan tinggi swasta yang sukses sesuai dengan bidangnya masing-masing, sementara kalau diperhatikan alumni kampus negrri banyak yang sukses di Jalur birokrasi

“Jadi antara kampus negeri dan swasta harus saling berbagi peran.. jangan lagi ada dikotomi antara swasta dan negeri.. Jika tidak ada perguruan tinggi swasta maka pasti pemerintah akan kesulitan meningkatkan SDM jika hanya mengandalkan kampus negeri,” tukasnya.

Ia juga menyarankan kepada para alumni perguruan tinggi negeri untuk tidak boleh jumawa karena segala fasilitas dan operasional mereka berasal dari keuangan Negara, dalam arti lain merupakan kampus yang disubsidi karena dibiayai negara sehingga ada kewajiban bagi masyarakat untuk ikut mengawasi. “Sementara kampus swasta dikelola secara mandiri, dan mahasiswanya mengeluarkan biaya tanpa ada subsidi pemerintah,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua DPP Partai Demokrat Jansesn Sitindaon saat merespons pernyataan politikus Partai Golkar Maman Abdurahman di sebuah media online nasional justru membawa-bawa dikotomi PTN dan PTS.

“Terkait Jiwasraya, kalau memang Maman ini merasa IQ-nya tinggi, walau saya tahu dia kuliah di kampus swasta, jauh lebih baik sayalah yang kuliah di universitas negeri ternama. Silakan saja dia tunjukkan data ketika Jiwasraya ini diserahkan dari pemerintahan SBY ke pemerintahan Jokowi, dia dalam posisi sakit parah?” kata Jansen saat itu.(ral)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply