ads_hari_koperasi_indonesia_74

Pemegang Saham PT ACS Digugat Oleh Mantan Dirutnya

Pemegang Saham PT ACS Digugat Oleh Mantan Dirutnya

Jakarta, hotfokus.com

PT Aero Wisata dan PT Dana Pensiun Aero Wisata dituntut ganti rugi oleh mantan Direktur Utama PT Aero Catering Services (ACS), Grace Purukan, senilai lebih dari Rp2 miliar. Hal ini karena dua perusahaan yang menjadi pemegang saham ACS ini memberhentikan Grace tanpa ada alasan yang jelas dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar perusahaan atau Rapat Umum Pemengang Saham (RUPS).

Grace diberhentikan secara mendadak saat dia baru menjabat sebagai Direktur Utama PT ACS selama enam bulan dari masa kontrak selama tiga tahun. Grace mendapat surat penghentian dari pemegang saham dan tidak sampai satu hari langsung serah terima jabatan dengan Direktur Utama yang baru. Padahal dalam Anggaran Dasar, ketentuan penunjukan Direktur Baru setelah tempo 14 hari paska surat pemberhentian diterima oleh Grace. Jeda waktu selama 14 hari ini untuk memberikan kesempatan pada Grace untuk melakukan pembelaan.

“Yang salah di sini di dalam Anggaran Dasar jelas sekali bahwa pergaantian direksi itu harus melalui RUPS, RUPS-LB atau rapat pemegang saham di luar RUPS. Di situ diatur jelas ketika akan berhentikan seseorang harus dijelas disampaikan alasannya, kemudian ditunggu dulu apakah ada keberatan atau tidak. Nah itu ditunggu itu selama 14 hari baru boleh dilasakanakan RUPS, nah tapi ini yang dilanggar semua,” kata kuasa hukum Grace, Noviar Irianto di Pasar Raya Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu kemarin (19/10).

Noviar membeberkan bahwa kliennya mencoba menyurati pihak Aero Wisata dan Dana Pensiun Aero Wisata untuk mengetahui secara jelas alasan pemberhentiannya. Namun dua kali surat dilayangkan, tidak mendapatkan respon yang baik dan tidak membeberkan alasan pemberhentian tersebut. Padahal seharusnya setiap pemberhentian direksi atau karyawan sebuah perusahaan harus jelas alasannya agar tidak menjadi bola liar.

“Ketika disandingkan ketentuan dengan alasan pemberhentian, kan harus dibuktikan. Misal bu Grace menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi atau lainnya, tapi no reason dan tanpa ada alasan memberhentikan ke orang yang justru punya prestasi selama dia memimpin,” ujar Noviar.

Dari dua kesalahan prosedural yang dilakukan pemegang saham PT ACS ini, yaitu tidak ada alasan pemberhentian dan juga masa sanggah yang tidak diberikan, kemudian Grace menggugat pemegang saham PT ACS ke meja hijau dengan nomor perkara 23/Pdt.G/2019/PN Jkt.Pst tertanggal 10 Januari 2019. Selama masa proses persidangan yang cukup panjang, Grace dan pihak tergugat menghadirkan saksi ahli masing-masing. Namun semua saksi ahli yang dihadirkan menyatakan bahwa pemegang saham telah berbuat sewenang-wenang dan tidak patuh pada anggaran dasar perusahaan.

Pada akhir persidangan beberapa waktu lalu, majlis hakim memutuskan bahwa Grace Purukan dinyatakan menang dalam gugatan. Sehingga pihak tergugat wajib memenuhi segala tuntutan dari penguggat serta mengganti rugi atas segala biaya yang timbul dari proses persidangan. Pihak tergugat lainnya dalam kasus ini juga dilayangkan kepada PT ACS dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menjadi induk dari unit usaha Aero Wisata. Salah satu dari petinggi dari dua perusahaan ini dituding melakukan intervensi terhadap kasus pemberhentian Grace sebagai Dirut PT ACS.

“Saksi ahli dari lima yang dihadirkan baik dari pihak kami atau dari pihak tergugat semuanya satu suara bahwa perseroan dalam menentukan apapun adalah anggaran dasar dan UU PT (Perseroan Terbatas),. Bahkan saksi ahli dari Aero Wisata juga menyatakan ketika kita tanya apa rujukan sebuah perusahaan melakukan usaha ya harus sesuai dengan anggaran dasar. Kalau keputusan itu (pemberhentian direksi) di luar dari anggaran dasar ya berarti keputusan itu batal,” sambung Noviar.

Namun begitu pihak tergugat tidak menerima putusan dari majelis hakim dan menyatakan banding atas perkara tersebut. Untuk itu pihak penggugat saat ini tengah menyiapkan diri untuk menghadapi banding dari pihak tergugat. Noviar berharap agar nantinya dalam proses banding, kliennya kembali dinyatakan menang oleh majelis hakim.

Sementara itu, Grace berharap agar hak-haknya sebagai professional yang diperlakukan sewenang-wenang oleh cucu dari BUMN ini dapat dipenuhi. Dia juga berharap agar ada keadilan yang bisa didapatkannya lantaran selama memimpin, kinerja PT ACS menunjukkan tren yang positif. Bahkan beberapa proyek baru dan strategis sekaligus menguntungkan PT ACS sudah pernah dibukukan oleh Grace. Namun sayangnya prestasi yang dilakukannya itu justru berujung pada pemecetan sepihak dari pemegang saham.

“Saya gugat itu karena saya dikontrak selama 3 tahun ya, jadi saya minta agar tiga tahun itu dibayarkan sebab pemegang saham ini justru yang wan prestasi,” kata Grace. (DIN)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *