ads_hari_koperasi_indonesia_74

Ekonom: Suku Bunga Ditahan, Jaga Kualitas Ekonomi Domestik

Ekonom: Suku Bunga Ditahan, Jaga Kualitas Ekonomi Domestik

Jakarta, hotfokus.com

Tepat seperti yang sudah diperkirakan mayoritas ekonom, akhirnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Mei 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan tersebut sungguh tepat dan bermakna strategis karena dimaksudkan untuk menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Sudah tepat pula jika BI harus terus mencermati perkembangan pasar keuangan global agar pengelolaan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dapat dilakukan dengan efisien dan efektif.

“Patut disyukuri bahwa di tengah tekanan eksternal tersebut, inflasi domestik masih tetap terkendali d level rendah (di bawah 3%) sesuai dengan yang diekspektasikan dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat 5,07% pada kuartal pertama 2019 ini. Hal ini yang melandasi munculnya sinyalemen bahwa ke depan arah kebijakan BI akan lebih longgar dan akomodatif (dovish) guna mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Signal ini makin kentara ketika BI juga memberi perhatian besar pada aspek ketersediaan likuiditas perbankan guna mendukung ekspansi kredit melalui kebijakan makroprudensialnya, antara lain dengan mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0%, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 4% dengan fleksibilitas repo sebesar 4%, dan kisaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar 84-94%,” tutur Ekonom BNI Ryan Kiryanto di Jakarta (17/05).

Dengan mempertahankan BI Rate tetap 6% tersebut, kata dia, diharapkan mampu mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, mendorong peningkatan ekspor, menggerakkan aktivitas pariwisata serta merangsang aliran masuk modal asing (capital inflows). BI tetap meyakini bahwa pemulihan ekonomi global ternyata lebih rendah dari prakiraan semula lantaran meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan. Pertumbuhan ekonomi AS diprakirakan menurun dipicu stimulus fiskal yang terbatas (meskipun pada kuartal pertama 2019 ini mampu tumbuh secara mengejutkan di level 3,2%), pendapatan dan keyakinan pelaku dunia usaha yang belum kuat serta terkuaknya permasalahan struktur pasar tenaga kerja. Di kawasan Eropa, pemulihan ekonomi juga lebih lambat karena efek Brexit yang stagnan dan melemahnya ekspor. Bahkan BI juga menyinggung soal tantangan struktural berupa aging population.

“Secara khusus perekonomian Tiongkok yang juga tumbuh belum kuat masih menjadi ganjalan. Masalah sengketa dagang AS versus Tiongkok turut serta mengerek ke bawah pertumbuhan ekonomi kedua negara. Di saat yang sama volume dan harga komoditas di pasar global juga belum kembali pulih. Pada akhirnya perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS, Uni Eropa dan Tiongkok serta anjloknya volume dan harga komoditas berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dunia yang juga melambat,” kata dia.

Ditahannya BI Rate di level 6% juga memberikan sentimen positif ke pasar keuangan domestik karena saat ini sudah merebak keluarnya modal (capital outflows) dari pasar emerging economies, termasuk Indonesia.

Kombinasi tekanan eksternal tersebut dengan defisit transaksi perdagangan pada April 2019 yang sebesar 2,5 miliar dolar AS diperkirakan menekan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2019 ini. Tepat jika BI menegaskan ulang bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari prakiraan awal karena dipengaruhi ekonomi global yang menurun. Secara keseluruhan, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4% atau 5,2%. Untuk itu, patut diapresiasi langkah BI yang terus menempuh bauran kebijakan bersama dengan Pemerintah, dan otoritas terkait guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ke depan, peran pemerintah yang lebih besar untuk menggerakkan roda perekonomian melalui jalur fiskal diharapkan mampu menopang kebijakan moneter yang sudah menunjukkan gregetnya di sepanjang lima bulan pertama tahun 2019 ini. Semoga.(SA)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply