ads_hari_koperasi_indonesia_74

Sopir AMT yang Demo di Depan Istana Bekas Karyawan PT GUN

Sopir AMT yang Demo di Depan Istana Bekas Karyawan PT GUN

JAKARTA — Manajemen PT Garda Utama Nasional (GUN) menegaskan para peserta aksi demonstrasi di depan Istana Negara yang tergabung dalam Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) adalah mantan karyawan yang dulu pernah bekerja di PT Garda Utama Nasional yang bekerja sebagai AMT di area lokasi kerja PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Salah satu direksi PT GUN Rudi menegaskan, aksi unjuk rasa yang terjadi saat ini merupakan masalah hubungan kerja antara PT Guna Utama Nasional dengan mantan karyawannya.

“Sebenarnya kami telah melakukan berbagai macam upaya untuk dapat memperbaiki hubungan kerja. Namun akhirnya perusahaan tidak dapat menghindari untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK),” tegasnya.

Keputusan itu terpaksa diambil setelah melaui tahapan verifikasi sesuai dengan prosedur yg ada, selain itu juga terdapat hal-hal lain yang membuat perusahaan harus melakukan PHK terhadap mereka, kewajiban karyawan tidak berjalan semestinya, bagaimana mungkin bisa dipertahankan.

Rudi memaparkan, dalam proses PHK ini PT GUN telah melakukan tindakan yg disyaratkan dan diatur dalam peraturan perusahaan, UU ketenagakerjaaan dan peraturan-peraturan lain terkait tenaga kerja.

“Kami telah melaksanakan kewajiban menurut hukum terhadap mantan karyawan kami terkait dengan PHK itu,” katanya.

Jika mereka tidak puas atas keputusan PT GUN seharusnya mereka mendemo bekas perusahaannya, bukan ke Pertamina apalagi berdemo ke istana.

“unjuk rasa yang dilakukan oleh mantan pekerja PT Garda Utama Nasional itu tidak ada kaitannya dengan PT Pertamina Patra Niaga,” tegasnya.

Untuk diketahui bahwa ada puluhan mantan sopir tangki BBM yang mantan tenaga out sourcing dari perusaan vendor-nya Patra Niaga menggelar aksi unjuk rasa dan menginap di Jalan Medan Merdeka, Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat.

Ketika PT SSS telah berakhir kontrak kerjanya dengan Patra Niaga yang kemudian penyediaan tenaga OS sopir tangki dilanjutkan oleh PT GUN, seluruh tenaga OS sopir tangki tersebut termasuk yang melakukan aksi demo bahkan juga diberikan pesangon walau dalam perjanjian kerja dengan mereka tidak ada kewajiban itu.

Ketika peralihan vendor dari PT SSS ke PT GUN para mantan sopir tangki diberi kesempatan untuk kembali menjadi sopir tangki BBM dan menjadi pekerja tanpa terbatas waktu (bukan lagi kontrak 2 tahunan-red) pada PT GUN namun sekitar 100 orang sopir menolak dan menuntut diangkat sebagai tenaga kerja Pertamina. (acb)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *