Ekonom Sesalkan Avtur Jadi Kambing Hitam Tingginya Harga Tiket Pesawat

Ekonom Sesalkan Avtur Jadi Kambing Hitam Tingginya Harga Tiket Pesawat

Jakarta, Hotfokus.com

Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori menilai, pernyataan Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA), I Gusti Ngurah Akshara Danadiputra yang mengarahkan sasaran adanya tingginya harga tiket pesawat akhir-akhir ini dengan mahalnya harga avtur tidak tepat.

“Saya rasa tidak tepat mengarahkan sasaran adanya kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi pada akhir 2018 dan awal 2019 dengan meminta Pertamina meninjau harga avtur yang berlaku. Sebab harga avtur Pertamina yang berlaku saat ini masih lebih murah dibandingkan harga avtur di negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik,” kata Defiyan kepada Hotfokus.com di Jakarta, Senin (14/01/2019).

Menurut Defiyan, berdasarkan data WFS Shell dan China National Aviation Fuel (CNAF) dan Blue Sky yang selalu diterbitkan secara periodik, harga avtur Pertamina di Bandara Soekarno Hatta US$ 42,3 sen per liter.

Harga tersebut, kata dia, lebih murah dibandingkan dengan beberapa harga avtur di bandara internasional lainnya, seperti Changi, Singapura sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia yang mencapai US$ 56,8 sen per liter, dan bandara INLAND di China yang sebesar US$ 46,13 sen per liter-nya. “Bahkan harga avtur Pertamina ini, perbandingannya dua kali lipat lebih murah dibanding bandara SYD Kingsford  di Australia dengan harga US$ 103,11 sen per liter,” tukasnya.

“Jadi, menuding Pertamina sebagai biang keladi dari kenaikan harga tiket pesawat pada 3 bulan terakhir ini adalah tidak tepat sasaran,” ketusnya.

Sebaiknya, lanjut Defiyan, Menteri Perhubungan dan Ketua INACA yang juga adalah Direktur Utama Garuda Indonesia menyampaikan permasalahan apa saja yang sebenarnya dihadapi oleh maskapai Garuda Indonesia yang juga masih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini terkait pengelolaan bisnis secara komprehensif.

“Sebagai salah satu upaya keterbukaan informasi kepada publik dan tak hanya menduga-duga dan saling menyalahkan antar BUMN, maka akan lebih baik jika otoritas dapat memeriksa struktur pembentuk harga tiket pesawat, berapa sebenarnya Harga Pokok Produksi (HPP) yang membentuknya dan berapa margin yang diambil Garuda Indonesia,” paparnya.

Lebih jauh ia mengatakan, dengan mengetahui HPP ini, maka akan dapat diketahui dengan tepat pos pembiayaan yang membentuk atau membebani harga tiket pesawat, misalnya biaya perbaikan dan perawatan, biaya sewa pesawat (utang pembelian), biaya asuransi, biaya sewa bandara, dan lain-lain.

Akan lebih masuk akal jika pihak Garuda Indonesia dan maskapai lainnya menyampaikan bahwa kenaikan harga tiket pesawat disebabkan oleh terdapatnya lonjakan penumpang di musim tertentu (peak season) sehingga hukum ekonomi berlaku,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum INACA, I Gusti Ngurah Akshara Danadiputra meminta agar pemerintah mengatasi persoalan mahalnya harga avtur untuk maskapai penerbangan. Pasalnya, kata dia, tingginya harga avtur disebut amat membebani kinerja operasional maskapai penerbangan.

Askhara mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan PT Pertamina (Persero) terkait penurunan harga avtur.

“Komponen paling besar adalah fuel, menyumbang 40-45% dari cost maskapai penerbangan. Kita juga sudah dapat support dari Kementerian BUMN, Perhubungan , dan ESDM untuk menurunkan harga avtur khususnya di Jakarta,” ujarnya.(RAL)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply