ads_hari_koperasi_indonesia_74

IPW Minta Polri Transparan Jelaskan Kejadian di Mako Brimob

IPW Minta Polri Transparan Jelaskan Kejadian di Mako Brimob

JAKARTA — Melalui rilis yang diterbitkan Jumat (11/5) hari ini, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, seorang terduga teroris melakukan serangan terhadap Mako Brimob Kelapa Dua, Kamis tengah malam. Serangan itu menyebabkan seorang polisi tewas terbunuh.

Neta S Pane menyebut, terduga teroris berusia 23 tahun dan berasal dari Jawa Barat. IPW, lanjutnya, merasa prihatin dengan peristiwa berdarah itu, apa lagi terjadi setelah kekacauan melanda Rutan Brimob yang menyebabkan lima polisi terbunuh.

“Tapi sayangnya hingga Jumat siang Polri belum mengumumkan tragedi Kamis malam ini,” kata Neta.

Lebih lanjut dia menuturkan, pada Kamis (10/5) malam sekitar pukul 23.45 WIB, dua intel Brimob melihat tiga lelaki mencurigakan di sekitar Mako Brimob. “Sepertinya ketiganya diduga membawa bahan peledak,” kata Neta.

Kedua intel Brimob, yakni Briptu Norman dan Briptu G berusaha membekuk ketiga lelaki yang mencurigakan. Sayangnya hanya TS yang berhasil ditangkap. Dua lelaki lainnya, berhasil kabur, dengan membawa bahan peledak.

Saat diperiksa, TS mengaku berumur 23 tahun dan berasal dari Tanjungsiang, suatu daerah di Jawa Barat.

Di tengah pemeriksaan, TS izin ke toilet. Karena lama tidak muncul kembali, Bripka Marjin Prancis mendatangi toilet untuk memeriksa. Saat itulah TS tiba-tiba menyerang Bripka Marjin dan menikam anggota Brimob itu bertubi-tubi.

Mendengar keributan di toilet, anggota-anggota Brimob lainnya segera mendatangi TKP dan berhasil membekuk TS. Sementara Bripka Marhun yang terluka parah langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Brimob. Sayangnya korban tetap tak tertolong. Pukul 02.40 korban meninggal dunia akibat luka parah di bagian perut.

Atas kejadian berdarah tersebut IPW mendesak agar Polri transparan mengungkap pembunuhan anggota Brimob sekaligus mengungkap jaringan teroris mana yang harus bertanggungjawab.

“Jika keamanan anggota polisi di markas komando pasukan elit Polri itu saja tidak bisa terjaga, bagaimana publik bisa percaya bahwa polisi mampu menjaga keamanan masyarakat,” tegas Neta di akhir rilisnya. (kn)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply