ads_hari_koperasi_indonesia_74

Kesejahteraan Jurnalis Perempuan Memprihatinkan

Kesejahteraan Jurnalis Perempuan Memprihatinkan

PADANG — Wakil Ketua DPD RI Darmayanti Lubis menganggap saat ini perempuan Indonesia masih menghadapi masalah bias gender. Antara lain perbedaan hak dan perlakuan antara perempuan dan laki-laki. Permasalahan tersebut telah mengakar dalam masyarakat dan instansi atau perusahaan tempat perempuan bekerja.

Dalam sambutannya di acara Konferensi Jurnalis Perempuan Indonesia di Hotel Grand Inna Padang, Rabu (7/2), Darmayanti Lubis berpendapat salah satu kelompok perempuan yang masih berkutat dengan masalah kesetaraan gender adalah jurnalis perempuan. Hak-hak dan kesejahteraan jurnalis perempuan dinilai masih belum memadai. Permasalahan tersebut tidak lepas dari isu kesetaraan gender.

“Kesetaraan gender, atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, mengacu pada kesetaraan hak, tanggung-jawab, kesempatan, perlakuan dan penilaian atas perempuan dan laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki dalam kehidupan maupun di tempat kerja,” kata Darmayanti Lubis, sebagaimana rilis Sekretariat Jenderal DPD RI.

Dalam acara yang turut dihadiri oleh Senator Sumatera Barat Leonardy Harmainy, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, dan Ketua Dewan Pers periode 2010-2013 Bagir Manan, Darmayanti Lubis menyebut kesejahteraan jurnalis perempuan masih jauh dari harapan.

Dia menyebut contoh tidak terpenuhinya sebagian hak-hak jurnalis perempuan seperti tunjangan keluarga, dan asuransi kesehatan untuk suami dan anak. Selain itu, isu pelecehan seksual di tempat kerja juga masih menghantui masyarakat perempuan. Perusahaan belum memiliki kebijakan dan saluran khusus pengaduan intimidasi dan pelecehan seksual di tempat kerja. Tidak ada standar penanganan yang jelas. Bahkan, kasus pelecehan di ruang kerja banyak terabaikan.

“Kita sebagai perempuan harus melawan pelecehan perempuan. Jangan takut. Kita harus berani berbicara untuk mengungkap dan melawan,” tegasnya.

Melihat banyaknya permasalahan tersebut, Darmayanti Lubis meminta agar seluruh elemen dapat bersinergi untuk memastikan agar hak-hak pekerja perempuan terpenuhi, termasuk jurnalis. Sehingga peran dan kualitas perempuan dapat meningkat dengan terpenuhinya hak-hak tersebut.

“Saya berharap agar dengan terbentuknya Forum Jurnalis Perempuan Indonesia dapat melahirkan gagasan dan melindungi jurnalis perempuan. Dan itu harus dimulai dari diri kita. Kita harus pede, kuat, dan tegas untuk merinah persepsi masyarakat sehingga tidak ada lagi diskriminasi gender atau pelecehan terhadap perempuan,” ucapnya.

Menurut Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, saat ini perempuan masih menjadi komoditas marketing bagi media, terutama media perempuan. Perempuan digunakan sebagai objek dalam berita dan iklan. Dimana kedua hal tersebut semakin mengukuhkan perempuan sebagai subordinasi laki-laki. Di industri media atau jurnalisme, Yosep masih berpendapat bahwa perempuan belum memiliki porsi sentral dalam manajemen media. Laki-laki masih mendominasi bidang jurnalisme.

“Dalam pers Indonesia, posisi jurnalis perempuan masih lemah. Peran mereka belum tereksplor dalam policy terkait manajemen dalam pemberitaan di media,” ujarnya. (kn)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply