Menakar Pilkada DKI
Sebuah Kalkulasi Politik Pasca TEMAN AHOK

Menakar Pilkada DKI<br>Sebuah Kalkulasi Politik Pasca TEMAN AHOK

Oleh :
Ferdinan Hutahean

Tulisan kali hanya sebuah artikel utak-atik gotak-gatuk ala pengamatan intel kampung yang tidak pernah menjadi intel apalagi menjadi pejabat intel. Artikel ini sekedar mencoba menghitung dan menakar Pilkada DKI yang segera akan memasuki agenda politiknya.

Mengapa tulisan ini mengambil judul pasca Teman Ahok?
Memang realita tak terbantahkan bahwa Teman Ahok hanya akan menjadi pelengkap dukungan partai politik kepada Ahok.

Mengapa Pasca Teman Ahok?
Karena Teman Ahok akan berakhir dalam proses kontestasi politik ini dan penulis memastikan tanpa ragu bahwa Ahok tidak akan maju menjadi Cagub dari jalur independent, tapi akhirnya akan maju dari jalur dukungan partai politik.

Mengapa Ahok harus berpisah dari Teman Ahok secara politik?
Tentu dugaan Teman Ahok yang menerima aliran dana 30 M dari pengusaha reklamasi akan menjadi beban hukum yang bisa menyambar Ahok jika menggunakan KTP Teman Ahok yang dikumpulkan menggunakan sumber dana yang tidak jelas dan patut diduga terkait jabatan Ahok sebagai Gubernur maka mengalirlah dana reklamasi.

Aliran dana ini akan menjadi gratifikasi ke Ahok karena digunakan oleh Teman Ahok untuk kepentingan Ahok.
Tidak bisa dipungkiri itu adalah “gratifikasi” ke Ahok melalui Teman Ahok. Maka sudah tentu Ahok akan “meninggalkan” Teman Ahok sebagaimana ia dulu meninggalkan PIB kemudian Golkar dan terakhir meninggalkan Gerindra.

Akan berlabuh kemanakah Ahok pasca Teman Ahok?
Penulis melihat bahwa Ahok sangat jatuh hati kepada PDIP dan sangat ingin berlabuh ke PDIP sebagai kendaraan politik, mengingat Ahok sangat berhasrat untuk 2019 akan bersama Jokowi dalam pilpres 2019.

Itulah kenapa Ahok sangat ingin meminang PDIP, dan sesungguhnya PDIP naksir juga kepada Ahok, tapi Ahok harus ceraikan selingkuhan politiknya yaitu Teman Ahok.

Dukungan Nasdem dan Hanura dari sejak awal kepada Ahok belum juga mampu luluhkan Ahok untuk resmi maju dari jalur parpol.

Dan terbaru dukungan dari Golkar juga belum bisa meluluhkan Ahok agar segera berpisah dari Teman Ahok. Betapa rendah dan hinanya sebetulnya ketiga partai ini dihadapan Ahok karena menjadi seperti wanita pengganggu yang merusak kemesraan Ahok dengan Teman Ahok.

Akankah Ahok akan berlabuh ke PDIP? penulis melihat sangat mungkin mengingat PDIP hingga sekarang belum memunculkan nama bakal calon.

Penulis meyakini, PDIP justru menempatkan Ahok diurutan pertama daftar bacagub yang kemudian dilapis dengan Djarot dan Risma sang walikota Surabaya, kader fenomenal PDIP. Sangat mungkin Ahok disandingkan dengan Djarot lagi atau dengan kader lain.

Tapi sekali lagi, ini cuma analisis intel kampung. PDIP, GOLKAR, HANURA dan NASDEM diyakini akan satu perahu mengusung Ahok dengan 52 kursi DPRD.

Kemanakah kekuatan DEMOKRAT dan GERINDRA?
Kedua partai ini sangat mungkin ijab kabul mengusung Safrie Sjamsudin dan Sandiaga Uno dengan dukungan 25 kursi. Sebuah perkawinan politik yang realistis meski akan menghadapi jalan terjal melawan Ahok.

PPP, PKS, PKB dan PAN menyisakan 29  kursi justru akan menjadi kekuatan signifikan untuk melawan Ahok.
Penulis berhayal koalisi parpol ini akan mengusung Taufik Ruki dan Yusril satu paket sebagai  kekuatan yang bisa menandingi dan mengalahkan Ahok.

Tapi apakah utak-atik ini akan terjadi? Belum tentu , karena ini hanya analisa anak kampung dan tentu tergantung maunya kaum oligarki yang mengatur pilihan bagi rakyat.

Sekali lagi demokrasi hanya akan memilih orang yang sudah dipilih, rakyat tidak punya hak menentukan siapa yang layak dipilih.(o/s/zn)

Sumber tulisan
Ferdinan Hutaean
Jakarta 25 juni 2016

Sumber image : www.bisnis.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply