Oleh : Andi N Sommeng
Ada seorang sopir ojol yang berangkat dari rumah dengan niat sederhana: menutup cicilan motor, menyambung hidup. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi simbol perlawanan. Tetapi di akhir Agustus 2025, tubuhnya terjepit di antara barikade dan Barakuda. Affan Kurniawan, namanya. Takdir menjadikannya catatan kaki dalam buku besar republik yang tak pernah rampung menulis demokrasi.
Di jalan Senayan, gas air mata menebarkan kabut yang tak hanya pedih di mata, tapi juga di hati. Negara, lagi-lagi, memilih bicara dengan selang air bertekanan tinggi, bukan dengan kata. Mobil Brimob melintas seperti tank di negeri asing, sementara rakyat sendiri jadi musuh yang harus didesak.
Tetapi ada bab lain yang lebih getir. Di ujung kota, rumah-rumah mewah milik para legislator—Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Naufa Urbach—dijarah. Rumah itu, bak istana orang kaya Eropa dengan pilar tinggi dan lampu kristal, mendadak jadi panggung amarah. Sofa impor terbalik, kaca patri pecah, lemari anggur porak poranda. Seakan rakyat ingin berkata: di dalam pagar besi itu, mereka bukanlah wakil, melainkan bangsawan kecil yang lupa tanah tempat mereka berpijak.
Tak berhenti di sana. Rumah pribadi Menkeu, Sri Mulyani—ikon kebijakan fiskal, wajah terhormat di forum dunia—juga didobrak. Ironi yang pahit: seorang teknokrat yang berbicara di Davos tentang disiplin anggaran, tapi rumahnya sendiri jadi obyek kemarahan rakyat yang merasa lapar.
Kekerasan terhadap tubuh rakyat di jalan raya, dan kekerasan terhadap istana-istana politik-ekonomi di sudut kota—keduanya adalah gema dari satu ketidakpercayaan yang sama. Rakyat tidak percaya lagi pada bahasa resmi, pidato televisi, dan angka pertumbuhan. Mereka membaca realitas lewat jarak: jarak antara kontrakan sempit dengan chandelier kristal, antara bensin naik dengan koleksi mobil sport di garasi wakil rakyat.
Affan tidak pernah tahu siapa Sahroni atau Naufa Urbach. Ia hanya ingin hidup layak. Tetapi tubuhnya yang terjepit di bawah barikade, dan rumah-rumah elite yang dijarah massa, kini menyatu dalam sebuah kalimat: negara ini sedang kehilangan keseimbangan antara janji dan kenyataan.

Sejarah selalu menulis dengan caranya sendiri. Kadang lewat tinta undang-undang, kadang lewat arsip rapat kabinet. Tetapi kali ini ia menulis dengan cara yang lebih kasar: lewat darah di aspal dan reruntuhan marmer di ruang tamu megah.
Pertanyaannya lalu: siapa yang sebenarnya sedang dijaga negara—’rakyat di jalan’, atau istana-istana politisi megah yang berdiri jauh dari mereka? []
Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *