ads_hari_koperasi_indonesia_74

ASPEK Indonesia: Jalan Berbayar, Menambah Beban Rakyat Makin Berat

ASPEK Indonesia: Jalan Berbayar, Menambah Beban Rakyat Makin Berat

Jakarta, Hotfokus.com

Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) meminta Pemprov DKI Jakarta untuk tidak memberlakukan kebijakan jalan berbayar atau yang dikenal dengan sebutan electronic road pricing (ERP), di sejumlah wilayah Jakarta. Di saat kondisi ekonomi masyarakat yang tidak baik, kebijakan jalan berbayar hanya akan semakin membebani masyarakat.

Menurut Presiden ASPEK Indonesia, Mirah Sumirat, SE, pemberlakuan jalan berbayar yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, tidak akan efektif. Kebijakan ini justru terkesan lebih karena keinginan Pemprov DKI Jakarta untuk bisa menarik dana dari masyarakat, secara cepat dan paksa.

“Pengguna jalan seperti “dipalak” oleh Pemprov DKI Jakarta,” kata Mirah Sumirat dalam keterangan pers tertulis yang diterima Hotfikus.com di Jakarta, Jumat (20/01/2023).

Lebih jauh ia mengatakan, kemacetan di DKI Jakarta tidak akan bisa dihindari, karena ruas jalan di Jakarta memang terbatas dan jumlah kendaraan yang melintas juga banyak. Mirah juga menanggapi beberapa isi Raperda Pengendalian Lalu Lintas Secara Elektronik (PPLE), dimana kendaraan yang kebal ERP salah satunya angkutan umum berpelat kuning.

“Artinya, ojek online dan kendaraan kurir yang saat ini jumlahnya jutaan, akan terbebani biaya jalan berbayar. Dan perusahaan mungkin akan membebani biaya jalan berbayar kepada konsumen,” ujarnya.

Namun menurut Murah, tidak menutup kemungkinan biaya jalan berbayar juga akan dibebankan kepada pengemudi ojol atau kurir, akibat kebijakan tarif ojol dan kurir yang tidak layak. “Di saat Pemerintah belum mampu memberikan lapangan pekerjaan yang luas dan banyak terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, sebaiknya Pemerintah jangan menambah beban hidup masyarakat, tegas Mirah Sumirat.

Mirah Sumirat juga menanggapi

Terkait 25 ruas jalan berbayar yang saling terkoneksi dan waktu pemberlakuan ERP yang terdapat dalam Raperda Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang akan diberlakukan setiap hari mulai pukul 05.00 sampai dengan pukul 22.00 WIB, menurut Mirah kondisi ini sama saja Pemerintah DKI Jakarta, akan terus membebani biaya jalan berbayar untuk setiap mobilitas masyarakat Jakarta yang sedang mencari rejeki, tanpa pandang bulu.

“Jika ojol atau kurir dalam sehari harus bertugas di beberapa ruas jalan berbayar, tentunya akan sangat terbebani dengan kebijakan yang tidak bijak ini,” cetusnya.

“Kami juga memiliki anggota pengemudi daring dan kurir yang telah menyampaikan aspirasi keberatannya kepada ASPEK Indonesia, untuk disampaikan kepada Pemerintah DKI Jakarta. Kasihan masyarakat kecil, beban hidupnya menjadi semakin berat,” tutup Mirah Sumirat.(RAL)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *