ads_hari_koperasi_indonesia_74

Perlunya Equipment Auditing Di Tangki-tangki Minyak Pertamina

Perlunya Equipment Auditing Di Tangki-tangki Minyak Pertamina

Oleh : Inas N Zubir

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Subholding Refining & Petrochemical Pertamina menyampaikan dengan panjang lebar bahwa penyebab kebakaran tangki BBM di kilang Balongan adalah petir.

Penjelasan tersebut begitu meyakinkan kita karena didukung data dari alat deteksi petir Lightning Detection System (LDS), milik Puslitbang PLN dan dukungan data dari literatur dan studi LAPI ITB yang menyebutkan bahwa petir dapat merambat dalam radius 10 mil atau 16 km, bahkan BMKG merevisi laporannya dan menyebutkan sepanjang pukul 23:00 hingga 01:00 WIB, terdapat awan Cumulus yang membentuk awan hujan konvektif serta terjadi sambaran petir dalam radius 17 km dari area Kilang Balongan.

Tapi keyakinan kita kemudian dibuat goyah, karena dalam penjelasan berikutnya muncul fakta bahwa ditemukan kebocoran di sisi dinding atas tangki BBM tersebut ketika sedang dilaksanakan proses batching produk Pertalite (RON 90) yang diblending dengan naphtha, dimana kemudian proses ini dihentikan lalu dilakukanlah transfer minyak dari tangki BBM yang bocor ke tangki lain-nya, dan kemudian kebocoran tersebut tersambar petir!

Tangki BBM atau tangki minyak, sangat mungkin tersambar petir, seperti hal-nya juga pesawat terbang yang bisa tersambar petir, tapi persoalan-nya adalah kesiapan teknologi dan peralatan untuk mengatasi resiko tersambar petir tersebut harus optimal karena menyangkut keselamatan manusia dan aset perusahaan.

Dalam 5 dasawarsa kecelakaan tangki minyak tersambar petir ada kurang lebih 50 kejadian dari jutaan tangki minyak di dunia. Ini berarti sebagian besar tangki minyak yang ada di dunia sudah dilengkapi dengan teknologi penangkal petir yang sangat mumpuni sehingga mampu lolos dari sambaran petir.

Lalu bagaimana dengan teknologi penangkal petir untuk mengamankan tangki-tangki minyak di kilang Balongan? Ternyata setelah terjadinya kebakaran di tangki BBM kilang Balongan maka kemudian Pertamina baru akan menyiapkan mitigasi agar kejadian sambaran petir yang menyebabkan tangki penampungan bahan bakar minyak (BBM) di Kilang RU VI Balongan terbakar tidak terulang kembali dimana rencana-nya akan dipasang 124 alat lightning protection system (LPS).

Jika 124 LPS ini baru akan dipasang, lalu kita bertanya-tanya tentang teknologi peralatan penangkal petir yang existing! Apakah cukup handal? Jika Pertamina meyakini bahwa teknologi penangkal petir kilang Balongan cukup handal, tentunya harus berdasarkan equipment/asset auditing atau semacam-nya bukan? Nah! apakah ada?

Kita juga patut bertanya-tanya, apakah ketika spin off kilang Balongan ke PT. Kilang Pertamina Internasional sudah dilakukan equipment auditing atau semacam-nya oleh manajemen yang baru? Hal ini penting agar manajemen baru memahami kondisi peralatan kerja yang menjadi tulang punggung perusahaan, dimana salah satu manfaat-nya adalah dapat mengidentifikasi dan memitigasi penyebab terjadinya suatu kecelakaan.

Kebakaran tangki BBM kilang Balongan dan kebakaran di kilang Balikpapan adalah pengalaman yang sangat berharga untuk Pertamina dan apabila Pertamina belum memiliki program equipment auditing terhadap tangki-tangki minyak-nya, maka tidak salah jika memulai-nya dari sekarang.

(Inas N Zubir, Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI periode 2017-2019, Pengamat Energi Untuk Bangsa)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *