ads_hari_koperasi_indonesia_74

Holding Ultra Mikro Picu Penguatan Ekonomi Petani

Holding Ultra Mikro Picu Penguatan Ekonomi Petani

Jakarta, Hotfokus.com

Kehadiran Holding Ultra Mikro yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) diyakini dapat pula memperkuat ekonomi petani karena berpihak kepada masyarakat kecil alias wong cilik.

Ketua Tani Nusantara Berdaya (Tanaya), Eko Hariyadi Ismail mengatakan secara umum program yang tengah digagas pemerintah itu memang sangat berpihak kepada wong cilik. Dia mengungkapkan, keterbatasan dan sulitnya akses permodalan menjadi masalah klasik bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, tak hanya pelaku UMKM dan usaha ultra mikro tetapi juga petani.

Pasalnya, keterjangkauan pembiayaan permodalan terhadap petani masih belum optimal. Karena itu, dia optimistis kehadiran Holding Ultra Mikro (UMi) bisa menjadi solusi, bukan hanya bagi pelaku usaha di segmen UMKM dan UMi tapi juga dampak positifnya dapat dinikmati petani.

“Artinya kehadiran Holding Ultra Mikro diharapkan mampu melengkapi sekaligus menguatkan akses permodalan kepada ekonomi petani,” lanjut Eko yang juga membina puluhan petani di Sukabumi, Jawa Barat tersebut, Rabu (4/8/2021).

Dia mengatakan sepanjang pengalamannya membina petani, tak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal. Faktornya beragam, mulai dari masalah usia, proses BI checking, hingga ketiadaan jaminan.

Dengan hadirnya Holding Ultra Mikro yang melibatkan tiga perusahaan negara yang dikenal fokus dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil, Eko optimistis masalah-masalah tersebut bisa direduksi, sehingga harapannya petani ke depan lebih berdaya.

“Saya harap Holding Ultra Mikro sedikit memberikan kelonggaran dalam konteks administrasi dan teknisnya. Tidak terlalu jelimet. Mudah-mudahan petani semakin terbantu dengan kehadiran holding ini,” ujarnya.

Harapan Eko ternyata bukan angan kosong. Seolah gayung bersambut, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan di masa pandemi loan demand memang melemah. Kendati demikian BRI memfokuskan sumber daya dan jejaring BRI di lapangan agar bisa mendorong loan demand tetap tumbuh. Menurutnya potensi yang bisa tumbuh itu adalah pertama segmen mikro. Yang kedua, sektor yang terkait dengan pangan.

“Terutama karena dalam keadaan seperti apapun kita masih butuh pangan. Dan ternyata saran saya itu saya katakan tepat untuk merespon challenge. Namun memang perlu diwadahi dalam satu ekosistem sehingga bisa bekerja lebih efisien. Baik untuk banknya maupun daya jangkaunya kepada masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Eko pun mengatakan, kehadiran Holding Ultra Mikro adalah solusi bagi petani atas kesulitan mangakses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dari data Kementerian Perekonomian, penyaluran KUR yang notabene menjadi salah satu andalan akses permodalan petani, masih didominasi kreditur yang bergerak di bidang non agribisnis.

“Dari Rp253 triliun total penyaluran KUR tahun ini, seperti yang disampaikan Pak Airlangga (Menteri Koordinator Perekonomian), Rp70 triliun dialokasikan untuk sektor pertanian. Artinya secara persentase masih di kisaran 30%,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, lagi-lagi Holding Ultra Mikro diyakini bisa memberikan solusi. Menurut Sunarso, di BRI saat ini sudah banyak yang mendapatkan kredit dengan plafon Rp10 juta ke bawah atau tergolong segmen ultra mikro. Kemudian di Pegadaian rata-rata nominal peminjaman nasabah Rp4 juta. Adapun di PNM bisa lebih kecil dari itu, yang memang melalui mekanisme group lending.

Karena itu, kata dia, sebenarnya saat ini ketiga perseroan sudah menggeluti ultra mikro. Untuk itu, kehadiran holding dinilai dapat membantu petani dengan pengajuan kredit bernominal di bawah Rp10 juta sehingga bisa memacu pertaniannya.

“Tapi yang perlu didorong adalah daya jangkau layanan kita, kemudian efisiensi dari sisi kreditur, yang dibina, yang diberikan pinjaman itu yang perlu ditingkatkan (melalui holding),” ujar Sunarso.

Sementara itu pendapat Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Mirza Adityaswara menguatkan optimisme Sunarso. Saat ini, kata dia, net interest margin di level mikro sudah mulai menurun dengan adanya KUR.

Hal itu membuat ciut nyali industri layanan jasa keuangan utamanya perbankan untuk masuk ke segmen tersebut. Namun, BRI tetap dominan. Dia menilai, BRI sudah memegang pasar di segmen tersebut sehingga menentukan pricing di sektor ini.
Mirza berpendapat, adanya sinergi yang melibatkan PNM melalui holding, akan semakin memperkokoh kinerja ke depan, di mana cost of fund dapat ditekan dan integrasi ini dapat menciptakan efisiensi.

“Nah, kalau ada BRI harapannya adalah bisa memberikan bantuan teknologi, bisa lakukan efisiensi-efisiensi terkait untuk biaya, dan kemudian bisa sinergi produk,” ujarnya. (DIN/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply