ads_hari_koperasi_indonesia_74

Lebih Murah dari Produksi lokal, Praktisi Migas: Hentikan Impor Solar

Lebih Murah dari Produksi lokal, Praktisi Migas: Hentikan Impor Solar

Jakarta, Hotfokus.com

Masih adanya impor bahan bakar minyak (BBM) ternyata menyisakan problem di lapangan yang berdampak dan berpotensi merugikan negara. Bagaimana tidak, kegiatan tersebut mampu dimainkan oleh pihak swasta atau  oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi.

“Saya menilai larangan impor solar ini tidak serius. Sebenarnya, kalau mau kan bisa langsung terbitkan saja suratnya, jangan dalam bentuk himbauan atau surat edaran. Larangan itu musti tegas, misalnya Keputusan Menteri ESDM yang melarang impor solar,” kata Praktisi Migas, Inas N Zubir pada diskusi virtual bertajuk ‘Menelisik Bisnis BBM Solar di Indonesia’, yang digelar Energy Watch, bersama Asosiasi Pengamat Energi Indonesia (APEI), Ruang Energi dan Situs Energi, Kamis (08/4/2021).

Mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini juga merasa heran l karena harga solar swasta yang didapatkan dari hasil impor dengan beban biaya pajak, distribusi dan lain-lain, justru lebih murah dari harga jual solar produksi Pertamina alias produk lokal.

“Padahal solar impor itu juga terkena beban biaya distribusi, landed cost, PPn, PPh dan PBBKB, jadi selayaknya dijual dengan harga Rp10.825 per liter. Ironisnya,  di lapangan justru dijual dengan harga Rp 7.650 per liter,” katanya.

Bagaimana bisa harga yang seharusnya Rp 10.825 per liter,  tapi dijual misalnya di Tokopedia,l dengan harga hanya Rp 7.650 per liter. “Saya lihat juga di Bukalapak ada yang jual Rp 8.000. Ini gila. Karena dengan biaya-biaya yang ada itu bisa menjual dengan harga Rp 7.650 per liter,” cetusnya.

“Kalau mereka jual dengan harga Rp 7.650.per liter,  itu artinya tanpa landed costnya harganya Rp 6.548 per liter, lalu berapa margin yang didapat, itu belum termasuk biaya distribusi dan logistik. Pertanyaan saya, darimana mereka mendapatkan solar murah?,” tanya Inas.

Oleh karena itu, ia meminta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas),  unruk bisa menyelidiki masalah ini. Kenapa  badan usaha BBM swasta, yang memperoleh  solar dari impor, bisa menjual dengan harga yang lebih murah dari harga Pertamina.

“Ironisnya mereka terang-terangan jual murah di Tokopedia dan marketplace. Harusnya ini bisa menjadi pintu masuk BPH migas untuk menyelidiki darimana solar itu didapat,” tukasnya.

Inas juga menghimbau kepada pemerintah untuk harus memiliki neraca solar yang jelas, sehingga jika ada penyelewengan solar oleh para distributor nakal bisa dihentikan.

“BPH Migas juga harus melakukan sweeping dari kargo-kargo yang punya harga siluman. Silumannya harus dicari. Solusi lainnya adalah, harus punya neraca BBM solar, masalahnya mau apa tidak pemerintah buat,” tutup Politisi Partai Hanura ini.(RAL)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply