Lambatnya Pemulihan Produksi AS Dorong Harga Minyak Melesat 4 Persen

Lambatnya Pemulihan Produksi AS Dorong Harga Minyak Melesat 4 Persen

New York, Hotfokus.com

Lambatnya pemulihan produksi minyak di Amerika Serikat (AS) akibat cuaca dingin yang ekstrim, mendorong harga minyak dunia meroket hingga mendekati 4 persen.

Produsen Amerika Serikat menutup produksi minyak antara 2 juta hingga 4 juta barel per hari karena cuaca dingin di Texas dan negara bagian penghasil minyak lainnya, dan kondisi dingin yang tidak biasa itu dapat merusak instalasi yang dapat membuat output  offline  lebih lama dari ekspektasi.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD2,33 atau 3,7 persen menjadi USD65,24 per barel, demikian dikutip dari laporan  Reuters, Senin (22/2/2021) atau Selasa (23/2/2021) pagi WIB.

Sementara, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melompat USD2,25 atau 3,8 persen  menjadi USD61,49 per barel. Kontrak minyak mentah WTI untuk pengiriman Maret berakhir Senin, dan kontrak April yang lebih banyak diperdagangkan melesat USD2,44, atau 4,1 persen, menjadi USD61,70 per barel.

Produsen  shale-oil  di wilayah tersebut setidaknya membutuhkan waktu dua pekan untuk sepenuhnya memulai kembali produksi normal, kata sumber, karena penilaian kerusakan dan gangguan listrik memperlambat pemulihan.

“Hilangnya produksi minyak mentah dan bensin yang signifikan itu menunjukkan lebih banyak sisi kenaikan dan sepertinya level tertinggi baru mungkin dalam kerangka waktu satu minggu,” kata Jim Ritterbusch, dari konsultan Ritterbusch and Associates.

Untuk pertama kalinya sejak November, perusahaan pengeboran Amerika memangkas jumlah  rig  minyak yang beroperasi karena cuaca dingin dan salju yang menyelimuti Texas, New Mexico, dan pusat penghasil energi lainnya, menandakan pasokan yang lebih ketat di masa depan.

Produsen minyak OPEC Plus akan bertemu pada 4 Maret, dengan sumber mengatakan kelompok tersebut kemungkinan bakal mengurangi pembatasan pasokan setelah April mengingat pemulihan harga, meski setiap peningkatan produksi kemungkinan akan moderat mengingat ketidakpastian yang masih ada seputar pandemi. (SNU/RIF)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply