ads_hari_koperasi_indonesia_74

BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Minus Di Triwulan IV 2020

BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Minus Di Triwulan IV 2020

Jakarta, Hotfokus.com

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 adalah sebesar -0,42 persen secara kuartalan (qtoq). Sementara pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2020 dibandingkan triwulan IV 2019 (year on year /yoy) terjadi kontraksi sebesar -2,19 persen. Kemudian secara kumulatif atau full year tahun 2020 sebesar 2,07 persen jika dibandingkan tahun 2019.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, mengatakan meski masih terjadi kontraksi namun tren negatif pertumbuhan ekonomi baik secara qtoq atau yoy pada triwulan IV 2020 mengalami perbaikan atau kian mengecil. Hal itu terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2020 sebesar -5,32 persen kemudian di triwulan III 2020 sebesar -3,49 persen.

“Ada perbaikan (pertumbuhan ekonomi) meski belum sesuai harapan, kita perlu evaluasi mana yang bagus kemudian diperkuat supaya pertumbuhan ekonomi di triwulan berikutnya bisa tumbuh sesuai harapan,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/2/2021).

Jika dilihat angka PDB berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan IV 2020 sebesar Rp3.929,2 triliun. Sedangkan apabila dilihat atas dasar harga konstan (ADHK) pada periode itu mencapai Rp2.709 triliun. Tren perbaikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 ini juga terjadi di beberapa negara mitra dagang Indonesia.

Sebagai contoh Amerika Serikat (AS) pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi membaik dari -2,8 persen menjadi -2,5 persen. Kemudian Singapura dari -5,6 persen menjadi -3,8 persen, Hongkong dari sebelumnya -3,6 persen menjadi -3 persen. Adapun mitra dagang yang tumbuh positif pada periode itu adalah Tiongkok dari 4,9 persen menjadi 6,5 persen sementara Vietnam dari sebelumnya 2,7 persen menjadi 4,5 persen.

“Ekonomi mitra dagang Indonesia pada triwulan IV 2020 masih kontraksi kecuali Tiongkok dan Vietnam. Pertumbuhannya positif untuk di Tiongkok dan Vietnam tapi mitra dagang lainnya seperti AS, Singapura dan lainnya yang merupakan tujuan ekspor kita masih terkontraksi,” ulas Suhariyanto.

Menurut kelompok pengeluaran, kata Suhariyanto, yang menjadi penentu utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 dibandingkan triwulan III 2020 adalah konsumsi pemerintah. Tercatat belanja pemerintah pada periode tersebut tumbuh positif sebesar 1,76 persen. Adapun kelompok pengeluaran lainnya mengalami kontraksi.

“Konsumsi pemerintah tumbuh posiitf 1,76 persen yang didorong oleh belanja barang dan jasa kecuali belanja perjalanan dinas. Ini dampak dari mekanisme PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dan WFH (work from home). Jadi belanja pemerintah menjadi satu – satunya komponen pengeluaran yang tumbuh positif,” sambungnya.

Untuk PMTB (Pembentuk Modal Tetap Bruto) atau investasi pada triwulan IV 2020 yoy tumbuh -6,15 persen. Kemudian untuk konsumsi rumah tangga -3,61 persen. Kemudian untuk kinerja impor tumbuh sebesar -13,52 persen dan ekspor -7,21 persen. Sedangkan konsumsi LNPRT tumbuh sebesar -2,14 persen.

“Kita perlu waspadai pergerakan investasi ke depan karena investasi sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi kita,” pungkasnya. (DIN/rif)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply