ads_hari_koperasi_indonesia_74

KLHK Sebut 72 Persen Masyarakat Tidak Peduli Dengan Sampah

KLHK Sebut 72 Persen Masyarakat Tidak Peduli Dengan Sampah

Jakarta, Hotfokus.com

Persoalan sampah plastik di Indonesia sudah sangat menghawatirkan. Pasalnya sampah-sampah plastik kini sudah masuk ke laut dan mencemari sehingga sangat berpotensi menganggu ekosistem laut. Berbagai gerakan pengurangan dan pemanfaatan sampah dirasakan masih kurang gaungnya karena selama ini masyarakat selaku konsumen dari sampah plastik lebih cenderung mengandalkan peran dari pemerintah.

Ujang Solihin Sidik, Kasubdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menjelaskan penanganan sampah dan pengolahan sampah memang menjadi persoalan yang sangat kompleks. Sebab dari total sampah yang ada hanya 39 persen sampah yang mampu dikoleksi. Kemudian 61 persen tidak ada pengelolaan yang jelas sehingga dibuang begitu saja.

“Ditambah TPA (tempat pemrosesan akhir) di kota – kota besar juga sudah diambang krisis lahan dan dalam waktu dekat akan menjadi bom waktu. Kami dorong bupati walikota untuk berkomunikasi dengan pihak swasta untuk menjajaki kolaborasi menyelesaikan masalah sampah kita,” kata Ujang alias Uso dalam diskusi daring terkait pengelolaan sampah plastik secara virtual yang diadakan oleh Forum Jurnalis Online (FJO), Kamis (28/1/2021).

Dijelaskannya bahwa perlu ada perubahan mindset dari masyarakat pada umumnya bahwa pengelolaan sampah khususnya sampah plastik adalah tanggung jawab bersama. Hal sederhana bisa dimulai dari lingkungan keluarga dengan memilah dan memilih sampah sesuai kelompoknya agar hal tersebut bisa memudahkan petugas sampah ketika akan dibawa ke TPA.

Menurutnya perubahan paradigma soal sampah yang dianggap sebagai sumber penyakit, tidak efisien dan tidak berharga perlu dihilangkan. Sebab berawal dari pemikiran tersebut akan berpengaruh pada tindakan lanjutan dalam memperlakukan sampah.

“Memang 72 persen masyarakat kita tak begitu peduli dengan sampah. Masyarakat masih rendah dalam memilah sampah. Lalu kurangnya integrasi pengumpulan di masyarakat dan sistem di pemerintah juga menjadi tantangan,” sambungnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mencatat jumlah produksi sampah plastik mencapai 7,23 juta ton per tahun. Sayangnya dari jumlah itu yang dapat didaur ulang hanya sekitar 3,60 juta ton. Sementara sisanya sebanyak 2,70 juta ton terbuang dan mencemari lingkungan khususnya di laut.

“Jadi yang harus diselesaikan dulu itu yang di darat. Jika 70 persen sampah yang di darat ini bisa diatasi maka sampah yang terbawa ke laut juga akan berkurang,” pungkas dia.

Sementara itu  Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh selalu memposisikan masyarakat selaku konsumen menjadi akar masalah dalam pengelolaan sampah. Apabila selama ini pemerintah mengkampanyekan agar ada upaya pemilahan sampah, harus dipastikan terlebih dahulu sarana prasarana yang bisa mendukungnya. Menurutnya, gerakan pilah sampah harus didukung dengan ketersediaan infrastruktur yang bisa membawa perubahan pola tindakan masyarakat terhadap sampah.

“Jadi jangan terus bilang masyarakat yang harus lebih aware dengan sampah ini. Kita semua bertanggung jawab. Produsen dari produk-produk yang memanfaatkan plastik juga harus diberi tanggung jawab sosial terhadap sampah ini,” pungkas dia. (DIN/rif)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply