ads_hari_koperasi_indonesia_74

Menghadapi tekanan eksternal, sebaiknya BI tahan suku bunga acuan tetap 6%.

Menghadapi tekanan eksternal, sebaiknya BI tahan suku bunga acuan tetap 6%.

Jakarta, hotfokus.com

Kepala Ekonom Bank BNI memproyeksikan hasil RDG BI hari ini masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI7DRRR di level 6% dengan beberapa pertimbangan dari faktor eksternal dan internal.

Dari faktor eksternal, diyakini arah gerak fed fund rate (FFR) semakin longgar atau dovish dimana The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR (bahkan ada potensi FFR akan diturunkan 25 bps dalam jangka pendek ini ke level 2,0-2,25% karena inflasi AS yg rendah di bawah 2% atau tepatnya 1,7% yg berarti di bawah ekspektasi dan juga sdh ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3% sesuai perkiraan IMF per April lalu.

“Pilihan The Fed cuma dua, antara menahan FFR di level saat ini yg 2,25%-2,50% atau menurunkan FFR hanya sekali sebesar 25 bps menjadi 2,0%-2,25%. Telah banyak desakan ke Jerome Powel, Chairman the Fed,  yg menghendaki FFR turun 25 bps menjadi 2,0%-2,25% hingga akhir tahun 2019 untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi AS menuju 3% dan inflasi 2% lagi,” tutur Ryan ketika dihubungi, Kamis (16/05).

Dikatakannya, sejumlah bank sentral di dunia juga sudah menurunkan suku bunga acuannya  (BOJ, PBOC, BNM, RBA, dan ECB). Dari faktor internal, BI dan pemerintah memiliki stance atau pandangan yg sama, yakni stability over growth (memprioritaskan stabilitas sambil menjaga momentum pertumbuhan) sehingga pilihan paling rasional dan strategis adalah RDG BI tetap menahan BI7DRRR di level 6%. Juga deposit facility dan lending facility di level yg tetap.

“Level bunga acuan yg 6% saat ini sesungguhnya sdh priced in atau factor in dimana level 6% ini sdh mempertimbangkan peluang FFR bertahan di level sekarang ini atau turun 25 bps hingga akhir 2019 ini,” tutur dia.

Langkah BI yg tahun 2018 lalu secara agresif menaikkan BI7DRRR sebesar 175 bps dari 4,25% ke 6% merupakan langkah preemptive dan ahead the curve yg tepat dan taktis mengiringi kenaikan FFR 100 bps pada saat itu sehingga jika RDG BI saat ini tidak menaikkan BI7DRRR alias tetap di level 6% sebagaimana RDG April 2019 lalu adalah langkah tepat.

Keputusan ini bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal (trade war AS vs China, risiko geopolitik, perlambatan ekonomi global, masih melemahnya harga komoditas dan kebuntuan solusi Brexit), menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya tekanan terhadap rupiah pasca rilis BPS yg mencatat defisit neraca perdagangan April 2019 yg sebesar 2,5 miliar dolar AS (rekor defisit selama ini) dan mempertahankan daya tarik investor asing untuk memegang aset dalam rupiah karena lebih atraktif.

“Juga membantu masuknya dana asing atau capital inflows yg dpt menguatkan kurs rupiah, IHSG di BEI serta memperkecil defisit transaksi berjalan (CAD) yg berkisar 2,6% dari PDB. Momentum pertumbuhan pun masih bisa dikelola dgn baik,” tambahnya.

Ditahannya BI7DRRR akan direspon positif kalangan perbankan, sektor riil dan investor portofolio karena level 6% ini dinilai akomodatif. Relaksasi kebijakan makroprudensial seperti LTV, RIM dan PLM dan kebijakan lanjutannya bisa diperkuat sehingga bauran kebijakan BI akan sangat tepat menjadi “jamu manis” untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional. Pasca pemilu, kini saatnya roda perekonomian bergerak lebih cepat untuk menjaga momentum pertumbuhan pada kisaran 5,1-5,3% tahun ini.(SA)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply