ads_hari_koperasi_indonesia_74

Budidaya Udang Vaname, KKP Kembangkan Teknologi Microbubble

Budidaya Udang Vaname, KKP Kembangkan Teknologi Microbubble

Jakarta, Hotfokus.com

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meresmikan peluncuran teknologi microbubble untuk budidaya udang vaname ultra intensif di Laboratorium Kelautan IPB, Ancol, Jakarta, Rabu (26/12).

Menurut Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh pembudidaya perikanan, khususnya udang, yaitu biaya listrik yang tinggi, modal yang cukup besar (untuk skala tambak), adanya limbah yang tidak dikelola dengan baik, serangan penyakit, serta daya dukung lingkungan yang menurun.

“Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan rekayasa teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya dengan pengembangan teknologi Microbubble dengan integrasi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya udang vaname,” papar Sjarief.

Teknologi Microbubble didesain oleh peneliti Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) yang dibuat secara sederhana sehingga dapat diadopsi dengan mudah oleh masyarakat pembudidaya. Dengan pendampingan, pembudidaya bisa membuat dan menerapkannya secara mandiri.

Dengan adanya penggunaan teknologi Microbubble dalam kolam ukuran volume 49 m3, selama 60 hari pembesaran, mampu menghasilkan udang berukuran berat 14 gram/ekor dari berat awal 0,5 gram dan meraup keuntungan bersih sebesar Rp94,3 juta/tahun dengan nilai investasi awal Rp31 juta.

“Diharapkan hasil penemuan ini dapat menjadi solusi permasalahan yang timbul pada budidaya udang vaname sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Ia menambahkan, teknologi ini bisa dikembangkan dengan kepadatan kurang lebih 1.000 ekor/m3 (Ultra- Intensif), sehingga produktivitas udang yang dihasilkan sangat tinggi. “Sebelum adanya invensi teknologi tersebut, budidaya udang vaname tertinggi dicapai pada budidaya supra intensif dengan kepadatan 400 ekor/m3,” ungkapnya.

Microbubble dengan integrasi RAS ini diklaim memiliki beragam kelebihan, di antaranya yaitu tanpa penggantian air, tidak ada air limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, serta bisa diaplikasikan di tengah perkotaan yang jauh dari sumber air laut, karena pengelolaan media air budidaya dilakukan secara berkelanjutan.

Kelebihan lainnya, lanjut Sjarief, adalah tidak memerlukan proses penyifonan, yaitu pembuangan lumpur limbah sisa pakan dan kotoran udang.Limbah padatan pada sistem ini akan tertangkap di filter fisik, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Teknologi ini dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga hingga industri sehingga pembudidaya kecil dapat diberdayakan. Sistem dan metode budidaya udang vaname ultra intensif ini jugatelah didaftarkan patennya melalui Sentra Kekayaan Intelektual KKP, dengan nomor paten P00201810738. “Sedangkan teknologi mikrobublenya telah diberi sertifikat paten nomor IDS000002014,” ujarnya.(ert)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply