ads_hari_koperasi_indonesia_74

BPS : Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Belum Pengaruhi Inflasi Bulanan

BPS : Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Belum Pengaruhi Inflasi Bulanan

Jakarta, hotfokus.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejauh ini belum mempengaruhi tingkat inflasi bulanan di bulan April.

Maka itu, tingkat inflasi April 2018 yang diumumkan sebesar 0,10 ini masuk kategori terkendali lantaran inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan.

“Belum kelihatan sih, atau mudah-mudahan tidak samasekali. Karena kalau kaitannya dengan kurs, itu kalau ke bahan makanan yang produk impor seperti terigu, gandum, kedelai, sama jagung. Kalau bahan-bahan pangan itu kan kaitannya dengan produk lebih lanjut seperti gandum menjadi mie atau roti,” ujar Deputi Bidang Statistik Dan Jasa BPS, Yunita Rusanti usai rilis inflasi bulan April di kantornya, Rabu (2/5).

Yunita mengatakan, menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran, produk2 bahan pangan impor itulah yang harus diwaspadai terkait pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. “Kalau kurs nya naik, impornya itu terpengaruh, akhirnya ke produk-produk itu. Itu kalau untuk yang bahan makanan. Tapi untuk impor bahan baku, ini juga patut diwaspadai. Karena sangat berpotensi mengerek inflasi bulanan,” tutur Yunita.

Sebagaimana diketahui, BPS mengumumkan bahwa indeks harga konsumen (IHK) hanya meningkat 0,10 persen secara bulanan pada April 2018. Hal itu dipengaruhi penurunan pada beberapa bahan pangan. Angka ini lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya yakni 0,2 persen.

Secara tahunan, inflasi sampai April ini tercatat 3,41 persen, lebih tinggi dari perhitungan tahunan Maret lalu sebesar 3,4 persen. Namun, angka ini lebih rendah dari inflasi tahunan April 2017. Dalam perhitungan sejak awal tahun, inflasi melaju 1,09 persen.

Adapun komponen yang paling rendah memberi kontribusi antara lain pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,04 atau cenderung stagnan.

Di sisi lain, tujuh kelompok pengeluaran, inflasi terbesar berasal dari kelompok sandang sebesar 0,29 persen. Makanan jadi, tembakau, dan properti juga mengalami inflasi cukup besar.

Untuk perumahan air listrik gas, dan bahan bakar minyak (BBM) memberi inflasi sebesar 0,16, dan kontrak perumahan 0,02 persen. (SNU)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply